Selasa, 20 November 2012

Aksi Kekerasan Pelajar, Salah Siapa?

Tema : Pemuda dan Sosialisai


Anggota Komisi X DPR dari Fraksi PPP DPR Reni Marlinawati menilai aksi tawuran pelajar yang terjadi di Ibukota Jakarta bukan lagi bentuk ekspresi pelajar. "Mereka sudah melakukan tindakan kriminal," kata Reni kepada wartawan di gedung DPR, Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, Selasa (25/9/2012).

Dia menilai aksi tawuran yang terjadi ada kesan pembiaran dilakukan pihak sekolah dan guru. Akibatnya, aksi tawuran terjadi turun temurun. Terkait kondisi ini, Wakil Sekretaris Fraksi PPP DPR RI ini meminta agar aksi tawuran pelajar ini diputus mata rantainya.

Dia mengusulkan harus ada sanksi yang diterima oleh pihak sekolah. "Dengan cara ini, agar ada motivasi dari pihak sekolah untuk mencegah dan menyetop aksi tawuran pelajaran," kata Reni. Selain sekolah, Reni juga mengusulkan, pelajar yang terlibat dalam aksi tawuran pelajar juga mendapat sanksi. "Pelajar dikembalikan ke orang tuanya, agar ada efek jera," tambah Reni.

Reni juga meminta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan agar membuat formula secara komprehensif untuk mencegah dan memutus mata rantai tawuran pelajar. "Karena tawuran pelajar tidak hanya di kota-kota besar saja," demikian Reni.

Sementara Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M Nuh meminta maaf kepada masyarakat atas terjadinya aksi tawuran pelajar. Dia juga mendukung upaya yang dilakukan dua sekolah. "Saya tidak ingin sekolah ini seperti Israel dan Palestina," kata Nuh bertamsil.

Terkait upaya pemutusan mata rantai aksi tawuran, Nuh mengatakan pihaknya akan membentuk tim khusus untuk menangani masalah tawuran antarpelajar. "Kami akan buat desk khusus untuk mengamati dua sekolah ini," tambah Nuh.

Rencananya, kata Nuh, tim khusus ini akan mulai bekerja Senin (1/10/2012) pekan depan. Tim yang berada di bawah Direktorat Jenderal Pendidikan menengah ini akan bertugas hingga waktu yang belum ditentukan. "Tugas mereka sampai waktu yang belum ditentukan," kata Nuh seraya mengatakan hasil tim untuk mengambil keputusan.

Kepala Sekolah SMAN 70 Jakarta, Saksono Liliek Susanto, menolak bila sekolahnya bertanggungjawab dalam aksi tawuran pelajar. "Saya balik bertanya, kalau di luar sekolah tanggung jawab sekolah bukan? Hal yang terjadi di luar bukan ranah kami, jangan salahkan kami," ujar Saksono di SMA 70 Jakarta, Selasa (25/9/2012)

Dia mengklaim telah berusaha melakukan pencegahan agar tawuran tidak terjadi. Langkah-langkah yang sudah dilakukan, di antaranya pembinaan kesiswaan, mengeluarkan siswa yang terlibat tawuran dan membawa senjata tajam, razia di kelas, hingga razia ke tempat tongkrongan siswa.






SUMBER :

[1] http://metropolitan.inilah.com/read/detail/1908876/aksi-kekerasan-pelajar-salah-siapa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar